Selasa, 19 Januari 2016

Proposal Penelitian Kuantitatif Model Discovery Learning dalam Pembelajaran Fiqih Untuk Meningkatkan Ketermpilan Berfikir

Proposal Penelitian Kuantitatif
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Agar pendidikan dapat berjalan secara efisien, kegiatan belajar mengajar di sekolah idealnya harus mengarah pada kemandirian  peserta didik. Menurut teori konstruktivisme, peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya jika aturan-atura itu tidak sesuai lagi. Hal ini didukung dengan perubahan kurikulum dimana guru dituntut untuk menggunakan pendekatan, metode, dan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Untuk menjawab tantangan kurikulum tersebut dapat diterapkan pendekatan saintifik dengan model pembelajaran Discovery Learning.
Pembelajaran discovery (penemuan) adalah model mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, tetapi sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Pada pembelajaran discovery mengajarkan siswa untuk mencari bahan ajar dari berbagai sumber yang ada sebelum guru memulai materi pembelajaran. Kegiatan atau pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Dengan penggunaan metode yang mendorong siswa untuk aktif, peran guru yang sangat kompleks dan anggapan bahwa guru adalah satu-satunya sumber belajar dapat dihilangkan. Peran guru adalah sebagai pembimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini akan merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Model Discovery learning memungkinkan murid-murid menemukan konsep bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Dengan upaya ini, diharapkan siswa akan mampu berpikir secara sistematis dan logis dalam memecahkan masalah yang ada.
Dari hasil pengamatan sementara dan pengalaman penulis sebagai siswa, penulis beranggapan bahwa guru Pendidikan Agama Islam cenderung menggunakan metode konvensional. Metode tersebut kurang mendorong siswa untuk aktif dan memahami konsep meteri yang diajarkan. Kondisi kelas menjadi kurang kondusif, siswa kurang terlibat aktif baik dalam memerhatikan, mendengarkan, dan merasakan apa yang sedang berlangsung, akibatnya tidak ada kesan yang cukup jelas mengenai materi yang telah diajarkan dan prestasi yang dicapai kurang baik.
Siswa yang hanya menerima dan menghafal materi akan kesulitan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahaminya, menerapkan, menemukan konsep, dan  menganalisis permasalahan seputar materi yang diajarkan. Siswa hanya terpaku dengan apa yang dijelaskan oleh guru tanpa ada ruang untuk mengekspresikan dan mengemukakan pendapat serta menguji kebenaran pendapatnya tersebut. Metode konvensional juga akan menghambat siswa yang memiliki kecerdasan dan rasa ingin tahu yang tinggi karena sempitnya ruang yang ia miliki untuk mengembangkan potensinya.
Dari hal di atas, dapat dikatakan masalah tersebut penting untuk dicarikan solusinya agar permasalahan tidak semakin berkepanjangan dan pelik. Mencetak siswa yang mampu, memahami konsep dan teori, mengaplikasikan, menganalisis, dan mampu berpikir secara sistematis dan logis dalam memecahkan masalah sangat penting. Selain itu, seiring majunya teknologi dan tuntutan akan kebutuhan sumber daya manusia yang handal serta upaya meningkatkan mutu pendidikan, penulis tertarik untuk mengkajinya pada penelitian yang berjudul “MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN FIQIH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR LOGIS”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana penerapan model Discovery Learning dalam pembelajaran fiqih?
2.      Bagaimanakah tingkat kemampuan berpikir logis siswa dalam pembelajaran fiqih?
3.      Adakah pengaruh model Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis pada mata pelajaran fiqih?

C.    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui penerapan model Discovery Learning dalam pembelajaran fiqih.
2.      Untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir logis siswa dalam pembelajaran fiqih.
3.      Untuk mengetahui pengaruh model Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis pada mata pelajaran fiqih.

D.    Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis. Kedua manfaat ini diuraikan sebagai berikut:
1.      Manfaat teoritis
Untuk menambah pengetahuan penulis dalam melaksanakan penelitian dan membuat karya ilmiah dalam rangka pengembangan khazanah keilmuan dan Bahan informasi bagi para peneliti yang hendak mengadakan penelitian lebih lanjut.
2.      Manfaat praktis
a.       Bagi siswa
Dapat mendorong siswa untuk lebih aktif ,mandiri, dan mampu berpikir secara logis dalam kegiatan belajar, khususnya dalam bidang fiqih.
b.      Bagi guru
Memberikan informasi pada guru untuk menggunakan discovery learning dalam proses pembelajaran fiqih dan diharapkan mampu meningkatkan logika berpikir siswa.
c.       Bagi sekolah
Memberikan kontribusi pada sekolah dalam rangka perbaikan proses kegiatan belajar mengajar dalam bidang Pendidikan Agama Islam guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A.    Deskripsi Teori
1.      Model Discovery Learning
Model discovery learning merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.[1] Pada pembelajaran ini siswa beralajar mencari dan menemukan sendiri. Guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.[2]
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model discovery learning merupakan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru tidak memberikan informasi secara langsung, tetapi siswa diberikan ruang untuk menemukan informasi sendiri dengan bimbingan guru. Dengan penemuan tersebut siswa akan kebih memahami konsep materi yang dipelajari.
Menurut Bruner sebagaimana dikutip Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, sistem pembelajaran itu bertujuan agar hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah pengetahuan dan kecakapan anak didik dapat menumbuhkan motivasi intrinsic, karena anak didik merasa puas atas usahanya sendiri.[3]
Metode inquiry discovery learning memiliki keunggulan dan kelemahan. Adapun keunggulan metode inquiry discovery learning adalah sebagai berikut:
a.       Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b.      Mampu melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
c.       Dapat membentuk dan mengembangkan diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
d.      Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
e.       Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Di samping kelebihan tersebut, model discovery learning memiliki kelemahan, yaitu:
a.       Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar.
b.      Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak.
c.       Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
d.      Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
e.       Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.
2.      Pembelajaran fiqih
Pembelajaran merupakan usaha untuk mencapai tujuan berupa kemampuan tertentu. Pembelajaran juga merupakan usaha untuk terciptanya situasi belajar sehingga yang belajar memperoleh atau meningkatkan pengetahuannya.
Fiqih artinya faham atau tahu. Menurut istilah fiqih adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalil yang rinci. Fiqih ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan atau membahas atau memuat hukum-hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an, As-Sunnah.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fiqih merupakan salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya.
Ruang lingkup pembelajaran fiqih meliputi keserasian, keselarasan, dan kesinambungan antara hubungan manusia dengan Allah Swt, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Adapun fokus pembelajaran fiqih adalah dalam bidang ibadah, muamalah, dan jinayah.
3.      Keterampilan berpikir logis
Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional  dan masuk akal. Secara etimologi logika berasal dari kata logos yang mempunyai dua arti 1) pemikiran 2) kata-kata. Jadi logika adalah ilmu yang mengkaji pemikiran. Karena pemikiran selalu diekspresikan dalam kata-kata, maka logika juga berkaitan dengan “kata sebagai ekspresi dari pemikiran”. Dengan berpikir logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang terjadi pada kita saat ini apakah kejadian-kejadian itu masuk akal dan sesuai dengan ilmu pengetahuan atau tidak. Tidak hanya itu, seorang peserta didik juga harus mampu berpikir kritis sehingga ia mampu mengolah fenomena-fenomena yang diterima oleh sistem indera hingga dapat memunculkan berbagai pertanyaan yang berkaitan dan menggelitik untuk dicari jawabannya.
Contohnya ketika seorang siswa atau peneliti melakukan metode ilmiah, maka pelaku ilmiah ini harus melakukan kegiatan ilmiah ini dengan berpikir secara logis, mulai dari saat pelaku ilmiah melakukan observasi/ pengamatan, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, melaksanakan penelitian, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, hingga menarik kesimpulan. Seluruh proses kerja ilmiah tersebut harus dikerjakan berdasarkan prinsip yang logis, rasional, dan masuk akal agar dapat dipertanggungjawabkan.

B.     Hasil penelitian terdahulu
Dari hasil kajian pustaka terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan penelti, ada beberapa skripsi yang terkait dengan tema penelitian.
Pertama, skripsi yang berjudul “Efektivitas Metode Pembelajaran Inquiry Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Pai Pada Siswa Kelas Viii Semester 1 Smp Nu 01 Muallimin Weleri Tahun Pelajaran 2010-2011” ditulis oleh faridah mahasiswa fakultas tarbiyah UIN Walisongo Semarang. Hasilnya menunjukkan bahwa model inquiry discovery learning lebih efektif  dibandingkan dengan model konvensional (ceramah). Jenis dan pendekatan yang digunakan sama, yang membedakan adalah teknik utama  pengumpulan data yang menggunakan metode tes dengan melakukan ­pre-test dan post-test pada kelas kontrol dan kelas eksperimental, sedangkan penulis menggunakan metode angket yang difokuskan pada informan. Selain itu penilaian terhadap hasil belajar mencakup ketiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik, sedangkan penulis hanya ranah kognitif, yaitu peningkatan cara berpikir logis siswa.
Kedua,skripsi yang ditulis oleh Reni Sintawati jurusan PAI fakultas Ilmu Tarbiyag dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2014 yang berjudul “Inplementasi Pendekatan Sainstifik Model Discovery Learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam si SMA Negeri 1 Jetis Bantul. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan dan menganalisis secara kritis tentang penerapan model discovery learning dalam pembelajaran PAI di SMA Jetis Bantul. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan saintifik model discovery learning pada pembelajaran PAI dapat membuat siswa antusias mengikuti pembelajara, rasa ingin tahu berkembang, aktif, berpusat pada siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif sedangkan penulis menggunakan penelitian kuantitatif.

C.    Kerangka berpikir
Model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Discovery learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga pembelajaran akan lebih aktif. Pembelajaran akan mendorong siswa untuk menemukan pemahaman sendiri dengan arahan guru, sehingga dapat melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dan logis.

D.    Hipoteis penelitian
Pembelajaran Discovery merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif dan mandiri. Keaktifan dan kemandirian siswa merupakan variabel penting dalam pembelajaran karena hal tersebut dapat melatih siswa untuk menemukan konsep yang ia temukan sendiri sehingga dapat melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dan logis.
Dari deduksi teori tersebut penulis mengambil hipotesis bahwa  model Discovery Learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir logis.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) maksudnya, penelitian yang dilakukan di kancah atau medan terjadinya gejala-gejala. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian langsung di MTs Raudhatul Ulum untuk memperoleh data yang sebenarnya. Penulis mencermati kegiatan belajar yang sengaja dibuat sesuai dengan rancangan sebelumnya. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena data-data yang penulis peroleh di lapangan diolah menggunakan rumus statistik. Dengan demikian penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh  model discovery learning sebagai variabel pengaruh terhadap cara berpikir logis siswa sebagai variabel terpengaruh.

B.     Populasi dan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan subjek dalam penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa MTs Raudhatul Ulum yang berjumlah . Berikut rician siswa Mts Raudhatul Ulum:
No
Kelas
Jumlah siswa
1.               
Vii-a
40
2.               
vii-b
37
3.               
vii-c
38
4.               
viii-a
38
5.               
viii-b
36
6.               
viii-c
36
7.               
ix-a
42
8.               
ix-b
40
9.               
ix-c
40
Total
347

Karena populasi yang besar, penulis tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu. Oleh karena itu penulis mengambil sampel dari populasi tersebut. Dalam menentukan sampel, Menurut Suharsimi Arikunto apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik di ambil semuanya, tetapi jika jumlah subjeknya lebih besar maka dapat diambil antara 10% -15% atau 20-25%. Berdasarkan pernyataan tersebut, penulis mengambil 20% sampel dari jumlah populasi 347 siswa.
Adapun teknik sampling yang penulis gunakan adalah proportionate stratifed random sampling. Proportionate stratifed random sampling yaitu teknik sampling yang digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional[4]. Penulis menggunakan teknik ini karena melihat adanya pengelompokan kelas yang berdasarkan tingkat kemampuan (kepandaian) siswa. Karena populasi berstrata, maka sampelnya juga berstrata. Strata ditentukan menurut kepandaian siswa. Dengan demikian masing-masing sampel untuk setiap kelas diambil secara proporsional sesuai dengan populasi.

No
Kelas
Populasi
Prosentase
Sampel
1.       
Vii-a
40
20%
8
2.               
vii-b
37
20%
7,4
3.               
vii-c
38
20%
7,6
4.               
viii-a
38
20%
7,6
5.               
viii-b
36
20%
7,2
6.               
viii-c
36
20%
7,2
7.               
ix-a
42
20%
8,2
8.               
ix-b
40
20%
8
9.               
ix-c
40
20%
8

Jumlah yang pecahan dibulatkan ke atas, sehingga julah sampe menjadi 8+8+8+8+8+8+9+8+8=73 siswa.

C.    Tata Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.[5] Variabel dari penelitian ini yaitu:
1.      Variabel bebas atau independen (X)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel independen dalam penelitian ini adalah model discovery learning, dengan indikator:
a.       Berpusat pada siswa (siswa aktif dan mandiri)
b.      Siswa menemukan sebagian atau seluruh konsep yang ia pelajari
c.       Siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri
2.      Variabel dependen (Y)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan berpikir logis, dengan indikator:
a.       Mampu mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan
b.      Membandingkan dan menggabungkan konsep-konsep
c.       Mengidentifikasi dan memecahkan masalah secara sistematis

D.    Definisi Operasional
Definisi variabel operasional adalah pengertian variabel (dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara riil, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Dalam penelitian ini yang peneliti maksud dengan model discovery learning adalah model pembelajaran dimana siswa memahami materi dan menemukan konsep sendiri serta mencari jawaban dari masalah yang ditemuinya. Sedangkan keterampilan berpikir logis merupakan kemampuan siswa untuk menguraikan teori, memberikan contoh secara konkrit, dan mampu menganalisis masalah sesuai konsep yang telah ia dapatkan. Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model discovery learning yang baik akan melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir logis siswa.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu:
1.      Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden.[6]
Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap model discovery learning, khususnya pengaruh terhadap keterampilan berpikir logis.
2.      Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Teknik ini digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku, proses kerja, dan responden tidak terlalu besar.[7]
Teknik ini penulis gunakan untuk menyelidiki proses belajar mengajar discovery learning dalam upaya meningkatkan cara berpikir logis siswa, masalah yang mncul, serta upaya yang dapat ditempuh pada proses belajar mengajar.
3.      Dokumentasi
Teknik dokumentasi merupakan teknik yang dilakukan untuk memperoleh data-data yang menunjang proses penelitian. Teknik ini penulis gunakan untuk mendapatkan data nama dan jumlah siswa yang menjadi anggota populasi serta untuk menentukan sampel. Teknik ini juga penulis gunakan untuk memperoleh data guru dan karyawan, latar belakang orang tua siswa, asal daerah, serta sarana dan prasarana yang tersedia untuk menunjang proses belajar mengajar.

F.     Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian,  penulis analisis untuk mengetahui kebenarannya melalui analisis kuantitatif. Analisis data ini dibagi menjadi tiga tahapan , yaitu:
1.      Analisis pendahuluan
Tahap analisis pendahuluan, data yang terkumpul disusun dalam tabel distribusi frekuensi dari variabel-variabel penelitian.
2.      Analisis uji hipotesis
Pada tahap analisis ini, yaitu analisis untuk menguji hipotesis yang diajukan menggunakan rumus statistik. Analisis ini merupakan kelanjutan dari analisis pendahuluan. Analisis uji hipotesis ini penulis menggunakan analisis korelasi produck moment menggunakan rumus sebagai berikut :
 
rxy =      

Keterangan  :
X       =  Data tentang model pembelajaran
Y       =  Data tentang keberhasilan belajar Pendidikan Agama Islam siswa
N       =  Jumlah responden
ΣX    =  Jumlah skor X
ΣY     =  Jumlah skor Y 
ΣXY  =  Jumlah perkalian antara X dan Y 
rxy     =  Koefisien korelasi antara X dan Y.
3.      Analisis lanjutan
             Analisis lanjut merupakan kelanjutan dari analisis pendahuluan dan analisis uji hipotesis. Analisis ini diperoleh setelah memperoleh nilai Ro (dari hasil analisis) dengan nilai Rt  (dalam tabel), baik taraf signifikansi 5 % atau 1%. Apabila  nilai Ro lebih besar atau sama dengan nilai Rt, berarti signifikan dan hipotesis diterima. Sedangkan apabila nilai Ro lebih kecil dari nilai Rt, berarti tidak  signifikan  dan  hipotesis  yang penulis ajukan ditolak.




DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung, Alfabeta, 2015
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zaain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2006
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, PT Grasindo, Jakarta, 2004



 

INSTRUMEN ANGKET

Nama               :
Kelas               :
Petunjuk          : Bacalah pernyataan di bawah ini dengan baik, dan berilah tanda centang (˅) pada kolom yang sesuai dengan diri anda!

No
PERNYATAAN
SL
SR
KK
TP
Penerapan Model Discovery Learning




1.
Model discovery learning dapat mendorong siswa untuk aktif




2.  
Model discovery learning menciptakan kemandirian dalam belajar




3.
Model discovery learning mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri




4.
Model discovery learning mampu menciptakan situasi proses kegiatan belajar mengajar menjadilebih merangsang




5.
Dengan Model discovery learning memudahkan siswa memahami materi yang diajarkan




6.
Agar siswa mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik dapat digunakan Model discovery learning




7.
Model discovery learning dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan siswa lainnya




8.
Model discovery learning mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.




9.
Model discovery learning memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasasalahan yang mereka hadapi




10.
Model discovery learning membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.




Pengaruh terhadap Keterampilan Berpikir Logis




11.
Saya apat mengungkapkan konsep materi secara tulisan saat guru menggunakan model  discovery learning




12.
Dengan model  discovery learning saya dapat mengungkapkan konsep materi secara lisan




13.
Saya mampu menghandirkan contoh dari konsep yang dipelajari secara konkrit setelah guru menerapkan model  discovery learning




14.
Model  discovery learning yang diterapkan guru membantu saya dapat memberi jawaban dengan penjabaran yang rinci




15.
Melalui model  discovery learning saya tidak mengalami kesulitan berpikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep




16.
Saya dapat menjawab pertanyaan yang diberikan setelah guru menyampaikan materi menggunakan model  discovery learning




17.
Melalui model  discovery learning saya dapat membedakan konsep-konsep materi yang disajikan




18.
Melalui model  discovery learning mendorong saya mengajukan agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran




19.
Saya dapat melakukan generalisasi untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis saat guru menggunakan model  discovery learning




20.
Dengan model  discovery learning yang diterapkan guru membuat saya dapat mengajukan hipotesis dari permasalahan yang diberikan





Keterangan:
SL       : Selalu
SR       : Sering
KK      : Kadang-kadang
TP        : Tidak pernah


[1] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, PT Grasindo, Jakarta, 2004, hlm. 84.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zaain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2006, hlm. 19.
[3] Ibid, hlm. 23.
[4] Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung, Alfabeta, 2015, hlm. 120.
[5] Ibid, hlm. 60.
[6] Prof. Dr. Sugiyono, op.cit, hlm. 199
[7] ibid, hlm. 203

Tidak ada komentar:

Posting Komentar